Allahuma shali ala saidina Muhamad…….!!!
Begitu melekat suara sang Bilal mengumandangkan puji-pujian kepada sang khalik di setiap shalat sunnat tarawih selama ramadhan di mesjid Jami’ Pasar Lama. Suara yang lantang dan penuh kharisma keluar dari mulut K.H. Hasan Basri, seorang ulama yang disegani di era 70-90an. Tak banyak yang tahu kalau almarhum Kyai Hasan Basri adalah salah seorang pejuang kemerdekaan. Di era pemerintahan bupati Saleh Hasan, kyai Hasan termasuk salah satu tokoh agamat yang sering dimintai pendapatnya dalam membuat kebijakan untuk kemaslahatan umat.
Konon kyai ini pernah akan dimutasikan ke Pulau Beringin bersama beberapa tokoh masyarakat Pasar Lama lainnya karena mengungkap kebobrokan mental seorang tokoh politik di Ogan Komering Ulu. Terlepas dari itu semua suara besar dan lantang kyai ini memang sangat membantu bagi para makmum agar tetap bisa mengikuti tiap gerakan sholat, maklumlah di tahun 80an microphone kecil yang biasa diselipkan di baju belum populer penggunaannya seperti sekarang terlebih lebih suara imam, K.H.Abdul Roni yang sudah sepuh terkadang terdengar samar.
Kyai Hasan yang tinggal di pasar lama tidak begitu jauh dari mesjid jami’ meninggal karena sakit. Di saat-saat Ramadhan seperti ini terkadang timbul kerinduan terhadap kyai-kyai besar kharismatik di Baturaja semisal Kyai Aziz, K.H. Abdul Roni, K.H. Agusnan, K.H. Den Ayib, K.H. Hasan Basri yang telah mendedikasikan sebagian besar masa hidupnya untuk menegakkan agama Islam yang membawa berkah bagi seluruh alam semesta. Para kyai ini pula telah berbuat banyak untuk menjaga aqidah dan mencegah murka Allah dengan amalan-amalan mereka. Baturaja, kota kelahiranku akan terus merindukan dan membutuhkan orang-orang suci seperti ulama di atas untuk mencegah degradasi moral masyarakatnya.







